Wednesday, 7 March 2012

Keutamaan Ilmu Atas Amal

Banyak hadits shahih yang menyebutkan keutamaan ilmu dibandingkan ibadah. Orang yang berilmu lebih diprioritaskan daripada orang yang ahli ibadah.

Dalam hadits Abu Darda' yang cukup populer disebutka ,
"Keutamaan orang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti kelebihan bulan atas semua bintang yang ada di angkasa." [1]

Disebutkan dalam hadits Abu Hudzaifah dan Sa'ad,
"Keutamaan ilmu itu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah dan sebaik-baik agamamu adalah sikap wara' (Berhati-hati dalam hal yang syubhat)." [2]

Kenapa ilmu itu lebih unggul daripada ibadah? Karena posisi ilmu lebih dahulu daripada amal. Ia sebagai guide-nya amal dan sekaligus pembimbingnya. Karena itu, di samping ilmu merupakan guide-nya amal, juga sebagai syarat diterimanya amal.

Selain itu, posisi ilmu lebih utama daripada ibadah karena kemanfaatan ilmu itu bisa menjalar kepada orang lain, sementara kemanfaatan ibadah itu hanya terbatas bagi yang bersangkutan saja. Selanjutnya, kemanfaatan ibadah -pada umumnya- berhenti dengan seseorang telah merampungkan dari kegiatan ibadah itu. Hal itu berbeda dengan kemanfaatan ilmu yang tetap dirasakan manusia hingga Allah menghendaki untuk mematikan mereka. Bahkan, ilmu dipandang sebagai amalan-amalan yang tetap lestari sepanjang masa bagi seseorang sekalipun ia telah meninggal dunia, "Apabila anak Adam itu meninggal, maka terputus segala amalnya kecuali dari hal-hal yang telah populer itu, di antaranya adalah : ilmu yang dimanfaatkan sepeninggalnya." [3]

Seseorang akan memperoleh pahala sejumlah orang-orang yang dapat mengambil manfaat dari ilmunya itu. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits,
"Barangsiapa yang menunjukkan atas suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala pelakunya." [4]

Alasan lainnya, ilmu termasuk sifat-sifat Allah SWT, sedangkan amal itu termasuk sifat-sifat makhluq. Dengan demikian, ilmu itu telah berakhlaq dengan akhlaq-akhlaq Allah SWT atau memiliki sifat dari sifat-sifat-Nya da mencantumkan nama-Nya dari nama-nama-Nya yang baik.

Tanpa ilmu kemungkinan seseorang meyakini yang bati karena ia pandang sebagai sesuatu yang haq. Ia akan mengerjakan perbuatan bid'ah karena ia berasumsi bahwa perbuatan itu merupakan sunnah. Ia akan jatuh terperosok ke dalam yang haram karena ia menduga sebagai sesuatu yang halal. Dan ia pun akan tergelincir ke dalam perbuatan yang tidak terpuji karena ia menduga sebagai sesuatu yang terpuji.

Untuk itu, hadits Mu'adz bin Jabal yang cukup populer mengenai keutamaan ilmu itu menyebutkan ,
"Ilmu itu adalah imam, sedangkan amal adalah pengikutnya."

Khalifah ar-Rasyid, Umar bin Abdul Aziz berkata,
"Barangsiapa beramal tanpa disertai dengan ilmu, kerusakannya lebih banyak daripada kemaslahatannya." [5]

Perlu diketahui bahwa banyak dari kalagan para ulama yang secara jelas mengatakan, bahwa amalan-amalan yang paling utama setelah mengerjakan semua yang wajib adalah mencari ilmu.

Asy-Syafi'I berkata,
"Tidak ada suatu amalan setelah melaksanakan hal-hal yang wajib yang lebih utama selain mencari ilmu."

Imam Ahmad pernah ditanya, "Manakah amalan yang paling engkau sukai? Saya duduk di malam hari sambil mempelajari ilmu atau mengerjakan shalat sunat?"
Jawab Imam Ahmad, "Kalian duduk di malam hari karena untuk belajar perkara-perkara yang berhubungan dengan agama kalian, itu lebih saya sukai…" Al-Khalal menceritakan dari Imam Ahmad dalam Kitab al-'Ilmi beberapa teks yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu dibadingkan ibadah sunat. Di antaranya bisa ditangkap dari perkataannya, "Manusia itu lebih butuh kepada ilmu daripada mereka butuh kepada makanan dan minuman."

Sementara Imam Malik, seperti yang dituturkan oleh Abul Qasim, saya pernah mendengar Malik berkata,
"Sesungguhnya ada beberapa kelompok orang yang mereka itu rajin mengerjakan ibadah, tetapi mereka menyerbu ummat Muhammad dengan membawa pedang-pedang mereka. Sekiranya mereka itu mencari ilmu, niscaya hal yang demikian itu akan menjadi penghalang mereka untuk melakukan tindakan yang demikian itu."

Ibnu Wahb berkata,
"Saya pernah berada di hadapan Malik bin Anas, lalu saya meletakkan buku tulis-buku tulisku karena saya segera ingin melaksanakan shalat sunat. Melihat apa yang saya perbuat itu, lantas Anas menegur, "Mengapa kalian mengerjakan sesuatu yang tidak lebih utama daripada yag kalian tinggalkan?"

Ibnul Qayyim telah mengemukakan aspek-aspek keutamaan ilmu atas ibadah dalam kitab Miftahus Sa'adah,
"Bahwa ilmu itu menunjukkan orang yang berilmu untuk mengerjakan amalan yang lebih utama di sisi Allah sekalipun kesulitannya lebih minim dibandingkan lainnya. Karena itu, orang yang berilmu itu relatif lebih sedikit letihnya dan capeknya, namun pahalanya lebih banyak!"

Atas dasar ini, maka wajar sekiranya Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Menempati kedudukan ummat yang terbaik. Padahal, di antara mereka ada yang lebih banyak amalannya, hajinya, puasanya, shalatnya, dan membaca al-Qur'annya daripada Abu Bakar. Abu Bakar bin Iyasy berkata,
"Posisi Abu Bakar berada di depan kalian bukan karena ia banyak ibadah puasanya dan shalatnya, akan tetapi karena sesuatu yang mengendap ke dalam hatinya (ilmu yang menumbuhkan iman, pen.)"


Footnote :
[1]HR. Ahmad
[2]Hadits ini disebutkan dalam Shahihul Jami'ish Shaghir, hadits nomor 4213
[3]HR. Muslim dari Abu Hurairah
[4]HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi dari Ibnu Mas'ud
[5]Atsar ini disebutkan Ibn Abdil Bar dalam kitab Jami' Bayanil 'Ilm


(dari "Jalan Menuju Hidayah" - Dr. Yusuf al-Qaradhawy)

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright 2035 akhizr
Theme by Yusuf Fikri