Tuesday, 26 June 2012

Cara Mudah Menghafal Al-Qur'an



Beberapa cara menghafal al-Qur'an adalah sebagai berikut :
1. Dengan cara membaca
2. Dengan cara menulis
3. Dengan cara mendengar bacaan para qurra'

Hal yang tersulit adalah menetukan kualitas dan kuantitas ayat yang kita hafal setiap hari. Siapa saja yang ingin menghafal al-Qur'an harus berhati ikhlas dan penuh kesabaran. Selain itu, dia harus optimis bahwa dia pasti bisa menghafal seluruh ayat dalam al-qur'an ini.

Allah SWT berfirman,
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (Q.S. Al-Qamar : 1&)

Rasulullah bersabda,
"Iri hati itu tidak benar kecuali pada dua hal berikut : (pertama) pada orang yang diberi al-Qur'an oleh Allah kemudian dia membacanya sepanjang siang dan malam; (kedua) pada orang yang diberi harta oleh Allah kemudian dia menginfakkannya siang dan malam."

Tiga Cara Menghafal Al-Qur'an : Membaca - Menulis - Mendengar

Cara sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini tergantung pada kesempatan dan kecakapan masing-masing penghafal. Hal itu bisa dilakukan dengan beberapa hal berikut.
Pertama, menghafal sesuai kemampuan setiap hari, kemudian mengulanginya pada hari yang sama.
Kedua, menghafal sedikit, dan mengulanginya sedikit, serta menentukan waktu masing-masing.
Ketiga, membaca ayat yang akan dihafal dengan tajwid dan secara tartil di depan guru. Hal ini akan mempermudah seorang penghafal mendapatkan hafalan yang benar.
Keempat, menelaah tafsir ayat yang akan dihafal. Hal ini akan memperkuat hafalan seseorang karena mengetahui makna ayat yang dihafal.

Kesulitan dalam menghafal dan mengulang hanya akan Anda rasakan pada bulan pertama. Setelah itu, Anda akan merasa terbiasa dan dengan mudah bisa menghafal sesuai keinginan Anda, tentunya dengan izin Allah. Allah-lah yang menentukan segala sesuatu.



Pada setiap huruf dari al-Qur'an yang kita baca terdapat satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Berapa banyak kebaikan yang akan didapat orang yang mengulang-ulang bacaan dan menghafal al-Qur'an?! Sungguh, ini merupakan kesempatan emas untuk mengisi umur kita.

Rasulullah bersabda,
"Di akhirat nanti ada yang berkata kepada pembaca al-Qur'an, ' Baca dan naiklah (ke surga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya secara tartil di dunia karena derajatmu (di surga) berada tepat saat ayat terakhir yang engkau baca.' "


#sebuah cacatan yang terdapat dalam Mushaf 'Qur'an Hafalan' (ZR)

Monday, 4 June 2012

Seputar Hadits Qudsi


Hadits Qudsi adalah hadits yang diriwayatkan Rasulullah dari Allah swt melalui Jibril, wahyu, ilham atau mimpi. Redaksionalnya diserahkan kepada Nabi saw. Tidak ada perbedaan antara Hadits Nabi dengan Hadits Qudsi, kecuali pada sanad periwatannya. Hadits Qudsi lebih banyak disandarkan kepada Allah swt sebagai pernyataan bahwa Dia-lah sumber pertama. Kadang-kadang disandarkan kepada Rasulullah saw karena beliaulah yang menyampaikan dari Tuhannya.

Dari definisi di atas bisa kita ketahui perbedaan antara Al-Qur'an dan Hadits Qudsi.
1. Al-Qur'an adalah mukjizat, baik lafadz maupun artinya. Sedangkan Hadits Qudsi bukanlah mukjizat.
2. Al-Qur'an sah dibaca dalam shalat. Sedangkan Hadits Qudsi tidak.
3. Mengingkari Al-Qur'an dihukumi kafir. Sedangkan mengingkari Hadits Qudsi dihukumi fasik.
4. Al-Qur'an, baik lafadz maupun maknanya dari Allah swt. Sedangkan Hadits Qudsi hanya maknanya saja yang dari Allah, sedangkan lafadznya dari Nabi saw.
5. Al-Qur'an tidak boleh diriwayatkan dengan maknanya saja. Sedangkan Hadits Qudsi boleh.
6. Al-Qur'an tidak boleh disentuh oleh orang yang berhadats (tidak suci). Sedangkan Hadits Qudsi tidak ada syarat bersuci bagi orang yang menyentuhnya.
7. Orang yang junub tidak boleh membaca atau membawa Al-Qur'an. Sedangkan ia dibolehkan membaca atau membawa Hadits Qudsi.
8. Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur'an maka ia akan mendapat kebaikan. Sedangkan sekadar membaca Hadits Qudsi tidak berpahala.
9. Jual beli al-Qur'an hukumnya haram (menurut pendapat Imam Ahmad) atau makruh (menurut mazhab Syafi'i). Sedangkan jual beli Hadits Qudsi tidak makruh, apalagi haram.

Hadits Qudsi dinamakan juga hadits Ilahiyah. Jumlahnya lebih dari seratus hadits. Ada beberapa ulama yang telah menghimpun hadits-hadits Qudsi, diantaranya : Ali bin Balban dalam kitabnya yang berjudul Al-Maqashid As-Sanniyah Fi Al-Ahadits Al-Ilahiya. Buku ini menghimpun seratus hadits qudsi.


#dari kitab Al-Wafi' : Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyah

Hukum Meninggalkan Shalat


Banyak hadits-hadits yang memberi ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat, dan menyatakan bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran atau mengarah kepada kekufuran. Hadits-hadits tersebut di antaranya :

"Antara seorang muslim dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (hr. Muslim)

"Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh telah kafir. (hr. Ahmad)

Abdullah bin Syaqiiq Al-Aqly menyatakan,
"Para sahabat ra. tidak melihat satu pun perbuatan yang apabila ditinggalkan menjadikan kafir, kecuali shalat." (hr. Tirmidzi dan Hakim)

Melaui berbagai nash tersebut, kita dapat mengetahui hukum bagi orang yang meniggalkan shalat. Namun, demikian juga sangat tergantung faktor yang menyebabkan ia meninggalkan shalat.

• Jika meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, juga tidak mengakui bahwa shalat adalah salah ibadah yang fundamental dalam Islam, maka ia adalah kafir dan murtad (sebagaimana ijma' para ulama). Meskipun ia mengucapkan dua kalimat syahadat, mengklaim bahwa dirinya muslim serta melakukan amalan-amalan yang lain. Orang seperti ini perlu diminta untuk segera bertaubat dan meralat keyakinan dan ucapannya. Jika tidak mau bertaubat, maka dijatuhi hukuman mati (hukuman bagi orang yang murtad). Tidak dimandikan, tidak dishalatkan, tidak dikuburkan di pemakaman Islam dan juga tidak saling mewarisi antara dia dan keluarganya.

• Jika meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini bahwa shalat adalah wajib, maka menurut kesepakatan para Imam fiqih orang seperti ini adalah fasik. Para Ulama kemudian berbeda pendapat dalam memperlakukan orang tersebut.

Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas, dipenjara dan diberi hukuman cambuk hingga ia mau melakukan shalat. Jika tetap tidak mau shalat, ia tetap ditahan agar tidak menjadi contoh buruk bagi masyarakat, atau menjadi pemicu untuk meremehkan syiar-syiar Islam.

Adapun Imam Malik, Syafi'i, dan Ahmad berpendapat bahwa orang seperti ini diminta untuk bertaubat. Jika tetap tidak mau taubat dan tidak mau shalat maka dibunuh. Namun demikian menurut Imam Syafi'i dan Imam Malik ia dibunuh sebagai hukuman, jadi tetap dimandikan, dikafankan, dishalatkan, dan dikubur di pemakaman Islam. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat bahwa orang tersebut dibunuh karena kufur, maka harus diperlakukan seperti orang yang murtad. Pendapat Imam Ahmad ini senada dengan pendapat beberapa sahabat, di antaranya : Umar ra., Ibnu Mas'ud ra., dan Mu'adz bin Jabal ra.


#dari kitab Al-Wafi' : Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyah

Thursday, 31 May 2012

Mutabaah Yaumiah

Ide ini muncul ketika syuro' Kaderisasi Fakultas. Seorang senior menyarankan bahwa alangkah baiknya dilakukan evaluasi terhadap mutabaah yaumiah kader. "Semacam dibuat grafik gitu, agar kita bisa terus memantau kondisi kesehatan ruhy kader", kira-kira begitu usulan yang disampaikan. Saya pun berfikir, sebaiknya langsung saja dibuat mutabaah yaumiyah dengan gaya yang berbeda : mutabaah yaumiah mode grafik!

Setelah melakukan beberapa pertimbangan (pribadi^^), akhirnya selesai juga rancangan mutabaah yuamiah yang saya buat.



Mutabaah dilakukan selama 15 hari. Mengapa 15 hari? Alasannya karena 15 hari adalah waktu yang cukup untuk membiasakan diri dengan sebuah pekerjaan/amalan. Sehingga jika seseorang istiqomah melakukan suatu pekerjaan setiap harinya selama 15 hari maka -Insya Allah- ia akan terikat dengan pekerjaan tersebut dan menjadi kebiasaan.

Berikut adalah amalan-amalan harian yang dituntut untuk dikerjakan :
1. Qiyamul Lail, 11 rakaat (10%)
2. Tilawah, 1 juz (10%)
3. Shalat berjamaah, 5x (10%)
4. Rawatib, 10 rakaat (10%)
5. Al-ma'tsurat, 2x (10%)
6. Membaca buku islami 1 jam (10%)
7. Infaq (10%)
8. Dhuha, 4 rakaat (10%)
9. Shaum sunnah (10%)
10. Menangis, muhasabbah (10%)

keterangan : masing-masing amalan apabila dikerjakan sesuai tuntutan (misal : tilawah sebanyak 1 juz) maka nilainya 10%. Sehingga apabila keseluruhan amalan dikerjakan dan sesuai dengan tuntutan maka ia mendapat persentase yaumiah 100%! Penilaian amalan juga dilakukan walaupun amalan tidak dikerjakan sesuai tuntutan, misal : al-ma'tsurat yang seharusnya dibaca 2x (pagi dan sore) hanya dibaca di waktu pagi maka nilainya hanya 5 %. Begitu juga dengan amalan lainnya!

Di antara 10 amalan harian di atas barangkali ada yang merasa bahwa ada amalan yang ganjil, atau tidak biasa. Ya, itulah menangis (muhasabbah). Menangis disini adalah menagisi diri yaitu menyesali dosa-dosa yang dikerjakan, bukan menangis yang bersifat "umum". Sesungguhnya menangis itu adalah ibadah, bahkan sangat besar pengaruhnya terhadap kondisi ruhiyah! Seseorang yang sering menangis karena takut sekaligus berharap kepada-Nya akan lebih mampu untuk beramal lebih dan konsisten dalam beramal. Karena ibarat air yang menyuburkan tanaman, air mata adalah air yang akan menyuburkan iman di hati.

So, bagi sahabat yang ingin mencoba memantau kondisi ruhiyah tidak ada salahnya mencoba!
=> download Mutabaah Yaumiah

Tuesday, 22 May 2012

Siap Menikah! Benarkah?


Terinspirasi dari sebuah artikel, "Menikah, Harus Siap Jadi Orangtua". Memang, menikah bukanlah hal yang sulit. Tapi apabila tanpa kesiapan untuk menjadi orangtua maka menikah hanya akan menjadi awalan dari sebuah kegagalan yang besar, atau paling tidak gagal menjadi Orangtua yang baik. Banyak orang yang siap untuk menikah, namun ternyata tidak siap menjadi orangtua. Akibatnya, banyak pasangan yang menunda sampai sekian lama untuk memiliki anak.

Disebabkan karena hanya melihat menikah sebagai sebuah fase akhir, bukan awal. Banyak yang mempersiapkan diri hanya untuk sebuah prosesi pernikahan, namun tidak mempersiapkan diri untuk "konsekuensi" yang akan dihadapi setelah menikah. Akibatnya, jangankan keterampilan untuk menjadi orangtua dalam mendidik anak, pemahaman dasar mengenai makna dan tujuan perkawinan barangkali masih banyak yang tidak paham.

Dan lagi, karena penekanan pendidikan yang kurang tepat. Begitu banyak buku-buku, ceramah, dan seminar yang berbicara tentang bagaimana kiat sukses menikah dini (saat kuliah). Namun adakah ditemukan kajian tentang bagaimana kiat sukses menjadi orangtua dini? Inilah masalahnya! Akibatnya banyak yang berpandangan bahwa menikah adalah sebuah kewajiban, sedangkan menjadi orangtua itu pilihan. Mereka tak lagi mengetahui bahwa salah satu tujuan menikah adalah untuk mempunyai keturunan. Juga adanya anggapan bahwa pendidikan parenting hanya layak untuk mereka yang sudah menikah atau yang berstatus "orangtua", tidak untuk mereka yang belum menikah (walaupun sudah berencana). Akibatnya semangat menikah tidak dibarengi dengan semangat membangun keluarga, karena tidak adanya kesiapan untuk memiliki keturunan dan menjadi orangtua.

***

Sekali lagi menikah itu mudah, namun untuk menjadi orangtua butuh kesiapan fisik dan mental! Tapi bukan berarti menjadi orangtua yang baik itu sulit. Asalkan berbekal pengetahuan, kesiapan dan kemauan, Insya Allah kewajiban sebagai orangtua akan dapat terlaksana dengan baik. Untuk menakar kesiapan, mari sama-sama kita renungkan beberapa pertanyaan berikut, sudah siapkah kita menjadi orangtua?

1. Perhatikan aktivitas dan kesibukanmu! Apakah banyak tercurah untuk hal-hal dan pekerjaan yang bermanfaat? Sehingga nantinya kau layak disebut sebagai orangtua yang bijak dalam memanfaatkan waktu?

2. Perhatikan akhlakmu! Apakah anakmu nanti akan dapat mewarisi kebaikan lisan, keramahan dalam berinteraksi, kesabaran, dan kewibawaanmu?

3. Perhatikan malam-malammu! Apakah ada kau sisakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya sehingga anakmu dapat meneladani kesholehanmu?

4. Perhatikan kepribadianmu! Apakah kau sudah cerdas dan teratur dalam mengurus diri sendiri sebelum mengurus orang lain?

5. Perhatikan amalanmu! Yakinkah kau dapat menjadi orangtua yang baik dengan melihat kondisi amalan ibadah di keseharianmu? Layakkah kau dijadikan contoh dalam beramal?

6. Perhatikan kebiasaanmu! Karena kebiasaan itu adalah ikatan, sudahkah kau terikat dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik?

7. Renungkan cita-cita hidupmu! Apakah untuk kepuasaan dunia atau kemenangan akhirat? Apakah dunia yang hina dan melalaikan ini yang akan kau berikan kepada keluargamu?

8. Perhatikan dirimu! Layaknya kepribadian dan kebiasaanmu saat ini diwariskan kepada anak-anakmu?

9. Sudahkah kau menyadari bahwa apa-apa kebaikan ataupun keburukan yang kau kerjakan saat ini akan menjadi benih pada kepribadian anak-anakmu?

10. Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu saat ini, layakkah kau disebut sebagai -calon- orangtua yang baik?



*utamanya coretan ini untuk diri / ZR

Wednesday, 16 May 2012

Keutamaan Diam


Ketahuilah bahwa lisan itu amat besar bahayanya. Tidak ada orang yang bisa selamat darinya, kecuali dengan diam. Oleh karena sebab itulah agama memuji sikap diam bahkan menganjurkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
"Barangsiapa diam, niscaya akan selamat."
(H.R. Tirmidzi)


Dalam sabda beliau SAW yang lain,
"Diam adalah kebijaksanaan, dan sedikit orang yang mampu melakukannya."
(H.R. Abu Manshur ad-Dailami)


Uqbah ibn Amir berkata,
"Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, 'Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?' Beliau menjawab, 'Tahanlah lisanmu dan hendaknya rumahmu menyenangkanmu (karena penuh dengan zikir-zikir) dan menangislah atas kesalahanmu (karena menyesal)."
(H.R. Tirmidzi)


Muadz ibn Jabal berkata,
"Aku bertanya kepada Rasulullah, 'Ya Rasulullah, apakah kita disiksa karena apa yang kita katakan?' Maka beliau berkata, 'Bagaimana engkau ini, wahai Ibnu Jabal! Manusia tidak dijerumuskan ke dalam Neraka, kecuali karena apa yang dihasilkan oleh lisan mereka!' "
(H.R. Tirmidzi)


Abdullah ats-Tsaqafi berkata bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, katakanlah sesuatu yang bisa kami pegang teguh!" Beliau berkata, "Katakanlah, 'Tuhanku adalah Allah', kemudian isitqomahlah!" Lalu aku bertanya lagi, "Ya Rasulullah, apakah yang paling menakutkan dan apa yang paling engkau khawatirkan akan diriku?" Beliau lantas memegangn lisannya sambil berkata, "Ini!"
(H.R. Nasa'i)


Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Muadz pernah bertanya kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, perbuatan apakah yang paling utama?" Beliau mengeluarkan lisannya, lalu meletakkan jari-jari di atasnya. (maksudnya, perbuatan yang paling utama adalah menjaga lisan)
(H.R. Thabrani dan Ibnu Abi Dunya)


Diriwayatkan oleh Anas ibn Malik bahwa Rasulullah berkata,
"Iman seorang hamba tidak akan lurus, hingga hatinya lurus. Hatinya tidak akan lurus, hingga lisannya lurus."
(H.R. Ibnu Abi Dunya)


Rasulullah SAW berkata,
"Barangsiapa ingin selamat, hendaknya membiasakan diri diam!"
(H.R. Ibnu Abi Dunya dan Baihaki)


Diriwayatkan dari Said Ibn Jubair sebagai hadits marfu', bahwa Rasulullah berkata,
"Apabila anak cucu Adam bangun di waktu pagi, maka semua anggota tubuhnya berpesan kepada lisannya dengan berkata, 'Takutlah kepada Allah demi kami! Karena, jika engkau lurus (baik), niscaya kamu juga lurus (baik). Jika engkau bengkok (jahat), niscaya kami juga bengkok (jahat)."
(H.R. Tirmidzi)

Ada yang meriwayatkan bahwa Umar ibn Khattab r.a. pernah melihat Abu Bakar r.a. tengah menarik lidahnya. Lalu Umar bertanya, "Apa yang engkau lakukan, wahai Khalifah Rasulullah?" Abu Bakar menjawab, "Inilah yang menyeretku ke lembah kebinasaan! Bukankah Rasulullah SAW berkata,
'Segala sesuatu dari jasad ini akan melapor kepada Allah tentang lisan karena ketajamannya'? "
(H.R. Ibnu Abi Dunya, Abu Ya'la dan Baihaki)


Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa ia mendengar Rasulullah berkata,
"Sesungguhnya kesalahan anak Adam (manusia) paling banyak terdapat pada lisannya!"
(H.R. Thabrani, Ibnu Abi Dunya dan Baihaki)

Ibnu Umar r.a. meriwayatkan dari Rasulullah SAW berkata,
"Barangsiapa menjaga lisannya, niscaya Allah menutupi aibnya; barangsiapa menahan amarahnya, niscaya Allah melindunginya dari siksa-Nya; barangsiapa memohon ampun kepada Allah, niscaya Allah menerima permohonannya."
(H.R. Ibnu Abi Dunya)


Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW berkata,
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah berkata benar (baik) atau diam!"
(H.R. Buhkari dan Muslim)


Hasan berkata,
"Dikatakan kepada kami bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Allah memberika rahmat kepada hamba yang berbicara, lalu mendapatkan kemenangan; atau diam, lalu selamat.' "
(H.R. Abi Dunya dan Baihaki)


Rasulullah SAW berkata,
"Tahanlah lisanmu, kecuali untuk kebaikan. Dengan demikian, engkau dapat mengalahkan setan!"
(H.R. Abi Sa'id dan Ibnu Hibban)


Dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah SAW berkata,
"Manusia itu ada tiga macam : orang yang memperoleh kemenangan, orang yang selamat, orang yang binasa. Orang yang memperoleh kemenangan adalah orang yang berzikir kepada Allah. Orang yang selamat adalah orang yang diam. Sedangkan orang yang binasa adalah orang yang banyak bicara tentang kebatilan."
(H.R. Thabrani dan Abu Ya'la)


Rasulullah SAW berkata,
"Sesungguhnya lisan seorang mukmin itu berada di belakang hatinya. Apabila hendak mengatakan sesuatu, ia mempertimbangkan dengan hatinya, kemudian ia ucapkan dengan lisannya. Adapun lisan orang munafik itu ada di depan hatinya. Apabila ia menginginkan sesuatu, ia ucapkan dengan lisannya, tanpa mempertimbangkan dengan hati."
( H.R. Al-Khuraithi dalam Makarim al-Akhlaq)


Rasulullah SAW berkata,
"Barangsiapa banyak bicara, niscaya banyak kesalahannya. Barangsiapa banyak kesalahannya, niscaya banyak dosanya. Dan barangsiapa banyak dosanya, maka neraka lebih utama baginya."
(H.R. Abu Nuaim di dalam al-Hiliyah)

Abdullah ibn Mas'ud berkata, "Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia. Tiada sesuatu yang lebih perlu dipenjara lama-lama daripada lisan!"

Hasan berkata, "Orang yang tidak bisa menjaga lisannya, berarti tidak memahami agamanya!"

Al-Auza'i berkata, "Umar ibn Abdul Aziz menulis surat kepada kami yang sebagian isinya adalah, 'Barangsiapa ingat mati, niscaya ia rela dengan sedikit bagian dari dunia ini. Barangsiapa memperhatikan ucapannya dibandingkan perbuatannya, niscaya ia akan mengurangi ucapannya, hanya untuk hal-hal yang bermanfat baginya!' "

Yunus ibn Ubaid berkata, "Setiap aku melihat orang yang lisannya baik,maka seluruh perbuatannya baik pula."

Jika engkau bertanya, "Apakah sebabnya diam itu memiliki keutamaan yang begitu besar?" Ketahuilah, sebabnya adalah karena banyaknya bahaya yang ditimbulkan oleh lisan : kesalahan, dusta, mengumpat, adu domba, kemunafikan, dan lain-lain.

Manusia yang waspada pasti akan menyadari bahwa di dalam banyak bicara terdapat bahaya. Sedangkan di dalam diam terdapat keselamatan. Maka dari itu, keutamaan diam amat besar. Di dalam diam, terkandung keutuhan cita-cita serta keabadian wibawa. Di dalam diam juga ada kemurnian waktu untuk beribadah dan berzikir, selamat di dunia dari perkataan dan selamat di hari Perhitungan. Dalam al-Qur'an dikatan,
"Setiap ucapan yang keluar, pasti ada malaikat pengawas yang selalu hadir (mencatatnya)."
(Q.S. Qaf : 18)



*(Dari buku "Bahaya Lisan" - Imam Ghazali)
 
© Copyright 2035 akhizr
Theme by Yusuf Fikri